Pengaruh Aktivitas Bermain Terstruktur Terhadap Perkembangan Motorik Kasar dan Regulasi Emosi Anak Kelas 3 dan 4 Sekolah Dasar

Authors

  • Mhd Imam Program Studi Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Universitas Negeri Medan, Indonesia
  • M. Iskandar Muda Nst Program Studi Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Universitas Negeri Medan, Indonesia
  • Muhammad Febri Program Studi Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Universitas Negeri Medan, Indonesia
  • Riaundi Christian Hutabarat Program Studi Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Universitas Negeri Medan, Indonesia

Keywords:

bermain terstruktur, motorik kasar, regulasi emosi, anak SD kelas 3 dan 4, perkembangan anak.

Abstract

Anak kelas 3 dan 4 Sekolah Dasar (SD) berada pada fase perkembangan di mana kemampuan motorik kasar (melompat, melempar, menangkap, berlari zig-zag) dan regulasi emosi (kemampuan menenangkan diri, mengendalikan amarah, berbagi) mengalami pematangan pesat. Aktivitas bermain yang terstruktur yaitu bermain dengan aturan jelas, tujuan spesifik, dan pengawasan guru diduga memberikan stimulus yang lebih efektif dibandingkan bermain bebas tanpa arahan. Artikel ini membahas pengaruh aktivitas bermain terstruktur terhadap dua aspek perkembangan: motorik kasar dan regulasi emosi anak usia 8–10 tahun. Berdasarkan kajian literatur dan analisis konseptual, ditemukan bahwa bermain terstruktur (misalnya: estafet karet, gobak sodor modifikasi, lari rintangan beregu) secara signifikan meningkatkan koordinasi mata-tangan, keseimbangan dinamis, serta kecepatan reaksi anak. Selain itu, bermain terstruktur yang mengharuskan giliran, kepatuhan pada aturan, dan sportivitas terbukti memperkuat regulasi emosi, terutama kemampuan menunda kepuasan (delay of gratification) dan mengelola kekecewaan saat kalah. Pembahasan naratif dalam tulisan ini mengintegrasikan teori bermain (Vygotsky, Piaget), teori perkembangan motorik (Gallahue), serta hasil-hasil penelitian empiris di sekolah dasar. Disimpulkan bahwa aktivitas bermain terstruktur merupakan strategi pedagogis yang sangat direkomendasikan untuk guru penjas dan guru kelas dalam mengembangkan motorik kasar sekaligus membangun kecerdasan emosional anak secara simultan.

Kata kunci: bermain terstruktur, motorik kasar, regulasi emosi, anak SD kelas 3 dan 4, perkembangan anak.

References

Erikson, E. H. (1968). Identity: Youth and crisis. W. W. Norton.

Fitriani, N. (2022). Pengaruh permainan tradisional terstruktur terhadap penurunan perilaku agresif siswa kelas 4 SD. Jurnal Pendidikan Anak Usia Sekolah Dasar, 7(1), 22–31.

Gallahue, D. L., Ozmun, J. C., & Goodway, J. D. (2012). Understanding motor development (7th ed.). McGraw-Hill.

Hasanah, U., & Kusuma, A. (2020). Peningkatan motorik kasar melalui permainan tradisional yang distrukturkan pada anak kelas 3 SD. Jurnal Keolahragaan Dasar, 4(2), 45–55.

Pellegrini, A. D., & Bohn-Gettler, C. M. (2013). The benefits of recess in primary school. American Journal of Play, 5(3), 259–280.

Piaget, J. (1970). Science of education and the psychology of the child. Orion Press. Santrock, J. W. (2017). Life-span development (16th ed.). McGraw-Hill.

Sutrisno, B., & Handayani, T. (2021). Regulasi emosi anak usia 8–10 tahun melalui permainan kooperatif. Jurnal Psikologi Pendidikan, 12(2), 88–97.

Vygotsky, L. S. (1978). Mind in society: The development of higher psychological processes.

Harvard University Press.

Downloads

Published

2026-06-02